MAKALAH ANALISIS PUISI “PERAHU KERTAS” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Dan ANALISIS PUISI “NUH” KARYA SUBAGIO SASTROWARDOYO
Guna memenuhi tugas individu mata kuliah Pengkajian Puisi.
Pengampu: Drs. H. Adiyana Sunanda.
Disusun Oleh:
_____________
A 310 070 _____
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra hanya menempati bagian kecil dari kebutuhan manusia terhadap pengalaman keindahan, dan hanya menempati sudut yang lebih kecil lagi kalau dilihat dari keseluruhan kebutuhan manusia. Namun, kedudukan yang kecil dalam kebutuhan manusia itu tidak perlu memperkecil arti kesusastraan dalam kehidupan. Keindahan pada sastra terletak dalam pengolahan bahan pokoknya. Sedang seorang sastrawan memperlihatkan keindahannya melalui bahasa. Bahasa adalah unsur pokok kesusastraan. Seorang sastrawan harus mampu mempergunakan bahasa untuk menyampaikan pengalaman keindahannya di samping pandangan hidupnya. Sastra dihargai karena ia berguna bagi hidup manusia. Sastra mengungkapkan berbagai pengalaman manusia agar manusia lain dapat memetik pelajaran baik dari padanya. Sastra yang baik kalau ia berhasil menunjukkan suatu pengalaman sehingga manusia dapat belajar dari padanya.
Sastra penuh dengan kata-kata yang tersusun secara tepat dan mempesona. Kita dapat belajar dari cara pengungkapan para sastrawan itu untuk keperluan kita sehari-hari. Sebagai seorang terpelajar sudah semestinya kita berbicara dan menulis secara benar dan baik. Orang mempelajari kesusastraan bukan untuk menjadi sastrawan. Sudah cukup baik kalau ia dapat menghargai dan mencintai buku-buku sastra. Dengan buku-buku sastra yang baik kita dapat berkenalan dengan pikiran-pikiran yang mendalam dan sungguh-sungguh, menghayati perasaan-perasaan yang intens, dan memperluas pengalaman kehidupan.
Apresiasi sastra berasal dari bahasa Latin ‘apreciatio’ yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna 1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan 2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Apresiasi hendaknya dimulai dengan pengenalan baik pengenalan pada pengarang maupun karya-karyanya dari pengenalan akan tumbuh penghargaan, dari penghargaan akan tumbuh apresiasi, dari apresiasi akan tumbuh menelaah karya sastra lebih jauh.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat empat permasalahan yang harus dicari jawabannya.
1. Bagaimanakah makna puisi PERAHU KERTAS karya Sapardi Djoko Damono.
2. Bagaimanakah makna puisi PEREMPUAN YANG DIRAJAM MENJELANG MALAM karya Goenawan Mohamad.
3. Bagimanakah cara menganalisis puisi yang berjudul PERAHU KERTAS karya Sapardi Djoko Damono?
4. Bagimanakah cara menganalisis puisi PEREMPUAN YANG DIRAJAM MENJELANG MALAM karya Goenawan Mohamad?
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan dan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan makna puisi PERAHU KERTAS karya Sapardi Djoko Damono melalui parafrase.
2. Memaparkan makna puisi PEREMPUAN YANG DIRAJAM MENJELANG MALAM karya Goenawan Mohamad melalui parafrase.
3. Menganalisis puisi yang berjudul PERAHU KERTAS karya Sapardi Djoko Damono, menggunakan pendekatan yang sesuai.
4. Menganalisis puisi PEREMPUAN YANG DIRAJAM MENJELANG MALAM karya Goenawan Mohamad, menggunakan pendekatan yang sesuai.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Parafrase dari puisi PERAHU KERTAS karya Sapardi Djoko Damono.
1. Parafrase puisi “PERAHU KERTAS” karya Sapardi Djoko Damono
PERAHU KERTAS (Perahu Kecil, Mainan)
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas (ketika masih kecil atau anak-anak, nelayan bisa membuat perahu kecil). Dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang (kemudian dihanyutkan di tepi sungai yang alirannya sangat tenang). Dan perahumu bergoyang menuju lautan (setelah tumbuh dewasa, nelayan mampu menaiki atau membawa perahu untuk berlayar ke laut).
“Ia akan singgah di Bandar-bandar besa”, kata seorang lelaki tua (secara langsung kau sebagai nelayan akan menunjungi atau singgah di pelabuhan-pelabuhan besar, kata seniornya). Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala (di samping bersenang-senang, nelayan pulang juga mendapatkan pengalaman dan sambutan). Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu (sejak pulang kepulangan nelayan, dia selalu gelisah menuggu perintah untuk berlayar lagi dengan perahu yang sama). Akhirnya kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kaupergunakan perahumu itu dalam sebuah Banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit” (sampai suatu saat nelayan itu mendengar berita dari seniornya jika perahunya sudah berlayar di lautan dan sekarang masih berada atau disandarkan di pelabuhan, belum berangkat berlayar lagi).
2. Parafrase puisi PEREMPUAN YANG DIRAJAM MENJELANG MALAM karya Goenawan Mohamad.
Puisi “perempuan yang dirajam menjelang malam” ini merupakan penggambaran atas kesaksian yang dialami oleh si “aku” terhadap hukuman (rajam) bagi perempuan yang telah melakukan dosa (perzinahan). Pengakuan dosa (perzinahan) yang dilakukan oleh perempuan itu terlihat dalam kutipan di bawah ini:
Dan di bola mata yang pecah, ia seperti telah berkata,
“Hamba telah berzinah”
Pemakaian kata “hamba” adalah sebagai bentuk ekspresi bahwasanya manusia yang telah melakukan kesalahan dan berdosa nilainya tak lebih dari seorang hamba yang terenggut hak dan kebebasannya. Ketika perempuan yang berzinah dirajam, yang lain telah pulang dan hanya si aku yang tetap tinggal sebab dalam hal ini dialah saksi atas kejadian yang menimpa sang perempuan yang dirajam.
Perempuan yang dirajam menjelang malam, adakah
ia mencari
seorang laki-laki yang menulis sesuatu pada pasir
saksi terakhir
semua ini ?
Yang ada hanya aku :
tangan yang menulis pada sabak hitam
ketakutanku
Keberadaan si aku bukan hanya sebagai saksi saja sebab dia mengenali perempuan yang dirajam:
Perempuan yang dirajam menjelang malam,
Ingatkah kau kepadaku ?
Sampai akhirnya kelelawar-kelelawar yang terbang
memekik mengenali jasad itu ;
Kelelawar dalam puisi ini merupakan simbol atas manusia-manusia yang hanya diterima dalam kesucian, selalu menjunjung tinggi nilai-nilai serta moral, dan hanya bertahan dalam sebuah kebenaran, seperti halnya kelelawar yang hanya keluar saat malam dan tak pernah keluar dari lingkar murni kegelapan.
Selain kutipan diatas juga ada bait lain yang menunjukkan bahwa si aku mengenali perempuan yang dirajam, yakni ;
Di nanahnya ada namaku,
sesuatu yang ingin ia sembunyikan
seperti kesedihanku.
“ya,” begitulah ia berkata sekali waktu, “Aku hanya
mencintaimu.”
Dalam puisi ini juga terdapat beberapa penggantian arti, dapat dilihat dengan munculnya beberapa kata kiasan pada bait-baitnya lebih-lebih berupa metafora dan metonimi.
Matahari telah memar. Cakrawala
luka bakar
magrib raib, dan gelap seperti lesit,
menghisap sisa darah
yang basah pada langit
Seperti kutipan diatas misalnya, kata “memar” merupakan metafora yang berarti lain yakni : mulai bergantinya warna matahari menjadi kemerahan (seperti senja). Kata “luka bakar” juga merupakan metafora yang maknanya tidak jauh berbeda dengan makna kata “memar” diatas. Selain metafora, makna personifikasi juga terlihat pada kutipan di bawah ini:
seperti nira hitam
Kata “antri” yang berarti berdiri berderet-deret menunggu giliran dan lazimnya kata ini dikenakan pada manusia pada bait diatas dikenakan pada darah yang merupakan benda mati. Jadi darah yang ada di pelupuk sang perempuan seakan menunggu giliran untuk keluar.
Dosa telah dilenyapkan
Senja telah dibersihkan
Pada kutipan bait diatas, “Senja” sebagai simbol dari “dosa”. Diibaratkan malam adalah metafora dari kesucian dimana kegelapannya akan ternoda oleh sisa-sisa sinar matahari di kala senja, senja inilah yang dimaknai sebagai dosa. Dan kemudian malam menjadi benar-benar gelap dan kesucian benar-benar menjadi murni tanpa noda lagi.
Antara “dosa” dan “senja” diatas menunjukkan persamaan posisi, pada kedua bait sajak itu terdapat persejajaran arti bahwa dosa si perempuan sebagai akibat dari perzinahannya telah lenyap seiring dengan hukuman (rajam) yang diterimanya, bersama itu pula “senja” yang dalam hal ini merupakan simbol dari dosa juga telah dibersihkan dari langit.
B. Analisis puisi yang berjudul “PERAHU KERTAS” dengan menggunakan pendekatan semiotika.
PERAHU KERTAS
Oleh : sapardi Djoko Damono
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas
dan kau layarkan di tepi kali;
alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar,"kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu
kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit."
Hal ini dikarenakan puisi “PERAHU KERTAS” karya Sapardi Djoko Damono dikemas seperti prosa. Dalam analisis semiotika menggunakan beberapa langkah, diantaranya sebagai berikut.
1. Berdasarkan Kata Dalam Puisi
a) Lambang
Di dalam puisi “PERAHU KERTAS terdapat kata-kata yang mengandung lambang, yaitu pada kata kanak-kanak, tepi kali, lautan, perahumu.
b) Simbol
Simbol yang terdapat dalam puisi ini, meliputi.
1) Blank Simbol
Simbol ini mempunyai acuan makna konotatif, tetapi pembaca tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum. Dalam puisi “PERAHU KERTAS” terdapat balnk simbol pada kata-kata yaitu perahu kertas, perahumu bergoyang, gambar warna-warni di kepala.
2) Natural Simbol
Merupakan simbol yang mempergunakan realitas alam, dalam puisi di atas adalah Banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.
2. Pemahaman Lapis Makna
a) Sense
Sense dalam puisi yang berjudul “PERAHU KERTAS” karya Sapardi Djoko Damono yang menceritakan pertumbuhan seorang anak nelayan dan kehidupan para nelayan.
b) Subject matter (pokok pikiran)
Merupakan pokok-pokok pikiran yang disampaikan penyair pada tiap bait puisi.
Bait 1: Pertumbuhan anak nelayan.
Bait 2: Kehidupan nelayan yang disibukkan dengan berlayar dari satu pelabuhan ke palabuhan lainnya. Ketika sudah pulang mereka menginginkan untuk berlayar lagi.
c) Feeling
Sikap penyair terhadap pokok pikiran puisi yang berjudul “PERAHU KERTAS” adalah penyair sebagai orang dua yaitu kau. Penyair ingin menggambarkan kehidupan nelayan yang begitu erat dengan perahu dan air.
d) Tone
Sikap penyair terhadap pembaca adalah penyair memberikan informasi kepada pembaca atas kehidupan seseorang sebagai nelayan yang suka bersenang-senang dan mendapatkan berbagai pengalaman.
e) Totalitas Makna
Seorang nelayan yang tumbuh dan berkembang bersama identitasnya yaitu perahu. Penyair sebagai tokoh kedua yaitu kau. Jadi puisi yang berjudul “PERAHU KERTAS” diibaratkan dengan kehidupan penyair yang sangat dekat dengan nelayan. Sikap penyair terhadap pokok pikiran serta pokok pikiran penyair kepada pembaca memberikan pengetahuan tentang kehidupan seorang nelayan.
f) Tema
Tema dari puisi yang berjudul “PERAHU KERTAS” adalah kehidupan nelayan ketika nelayan tersebut berlayar di laut.
C. Analisis puisi yang berjudul “NUH” dengan menggunakan pendekatan struktural.
NUH
Kadang-kadang
di tengah keramaian pesta
atau waktu sendiri berjalan digurun
terdengar debur laut
menghempas karang
Aku tau pasti
sehabis mengembara dikota
aku akan kembali ke pantai
memenuhi janji
Sekali ini tidak akan ada pelarian
atau perlawanan
Kapal terakhir terdampar dipasir
aku akan menyerah dian
waktu air terbenam
1. Unsur fisik puisi yang berjudul “NUH” terdiri dari:
a) Bunyi
1) Rima:
a. Rima dalam: terdengar debur laut
sehabis mengembara dikota
aku akan menyerah dian
b. Rima akhir: Sekali ini tidak akan ada pelarian
atau perlawanan
2) Irama
Irama ditandai adanya unsur musikalitas panjang pendeknya kata yang mampu menimbulkan kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Dalam puisi “NUH” terdapat pada bait ke-4 yaitu:
Kapal terakhir terdampar dipasir
aku akan menyerah dian
waktu air terbenam
3) Ragam Bunyi
a. Euphony (vocal ringan)
Dalam puisi yang berjudul “NUH” tidak ditemui adanya euphony (vocal ringan) karena puisi ini menuansakan suasana kesedihan.
b. Cocophony
Cocophony dalam puisi “NUH” yaitu pada baris:
di tengah keramaian pesta
terdengar debur laut
aku akan kembali ke pantai
sehabis mengembara dikota
c. Onomatope
Bunyi yang memberikan sugesti suara tertentu. Bunyi yang disugestikan bisa berupa bunyi binatang, suara alam. Pada puisi “NUH” yaitu “terdengar debur laut”.
b) Kata dalam puisi
1) Lambang
Yang termasuk lambang dalam puisi yang berjudul “NUH” adalah gurun, debur.
2) Utterance (Indice)
Puisi yang berjudul “NUH” terdapat utterance yaitu waktu air terbenam, menggunakan makna kiasan.
3) Simbol
Di dalam puisi “NUH” terdapat symbol yaitu “waktu air terbenam” maksud dari symbol tersebut adalah ketika sudah mulai menunjukkan pergantian dari siang menjadi malam hari.
c) Lapis Makna
1) Sense
Sense dalam puisi yang berjudul “NUH” karya Subagio Sastrowardoyo yang menceritakan seorang nelayan yang berada di tengah keramaian pesta, nelayan tersebut merasakan kehidupan yang berbeda saat ia tinggal di pantai sebagai nelayan. Namun, keramaian yang ia rasakan tidak akan berjalan lama karena ia harus kembali lagi sebagai nelayan.
2) Subject matter (pokok pikiran)
Bait 1: Seorang nelayan yang berada dikeramaian pesta dan merasakan perbedaan kehidupannya di pantai.
Bait 2: Nelayan tersebut sadar akan keberadaannya di kota hanya berjelajah setelah itu harus kembali ke pantai.
Bait 3: Nelayan tidak mungkin mengingkari pekerjaannya menjadi seorang nelayan.
Bait 4: Nelayan tempat tinggalnya di pantai dan kembali menjalankan aktivitasnya di malam hari.
3) Feeling
Sikap penyair terhadap pokok pikiran puisi yang berjudul “NUH” adalah penyair sebagai orang pertama yaitu aku. Penyair menggambarkan kehidupannya sebagai nelayan yang tinggal di kota untuk berjelajah dan akhirnya kembali ke pantai. Jadi sikap penyair sebagai pemeran utama.
4) Tone
Sikap penyair terhadap pembaca adalah penyair memberikan informasi kepada pembaca atas kehidupannya sebagai nelayan yang merasakan perbedaannya hidup di keramaian kota dengan hidup di pantai. Pembaca di ajak untuk merasakan apa yang dirasakan penyair.
5) Totalitas Makna
Seorang nelayan yang merasakan kehidupan yang berbeda antara di keramaian kota dan di pantai. Namun, keberadaannya di kota hanya untuk berjelajah saja dan harus kembali ke pantai untuk kembali menjalani rutinitasnya sebagai nelayan.
Penyair sebagai pelaku utama yaitu aku, jadi puisi yang berjudul “NUH” diibaratkan gambaran kehidupan penyair sebagai nelayan.
Penyair terhadap pembaca memberikan informasi atas kehidupannya sebagai nelayan yang merasakan kehidupan di pantai itu sepi dan berbeda jauh di kota yang penuh dengan keramaian.
6) Tema
Tema dari puisi yang berjudul “NUH” adalah perbedaan kehidupan nelayan ketika nelayan tersebut di kota dan ketika nelayan di pantai.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam puisi yang berjudul “PERAHU KERTAS”, penyair menggunakan sudut pandang orang kedua. Dengan maksud memberi informasi kepada pembaca mengenai kehidupan nelayan. Disamping itu, puisi ini dikemas dalam bentuk yang hamper menyerupai prosa, sehingga sulit di identifikasi dngan pendekatan structural dan harus menggunakan pendekatan semiotika.
Kemudian dalam puisi yang kedua berjudul “NUH” dan “ BELAJAR DARI OMBAK”, penyair menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini dikarenakan penyair menyadari bahwa dirinya juga orang biasa yang tidak bias lepas dari kodratnya yaitu tertimpa masalah.
Saran
Sebaiknya dalam menganalisis sebuah puisi seseorang itu harus rajin membaca buku. Hal ini diharapkan agar perbendaharaan kata yang kita kuasai bias kita gunakan saat memparafrasekan suatu puisi. Selian itu, ketika mneganalisis suatu puisi juga harus didukung suasana yang tenang dan kondusif.
DAFTAR PUSTAKA
Anymous. Pengkajian Puisi. www.Analisis puisi.com. Diakses pada tanggal 18 Juni 2010, jam 09.23.
Nurgianto, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Riadi, Fahmi. Pengertian Puisi. www.Kata blogspot. Com. 2008/02/pengertian puisi. Diakses pada tanggal 19 Juni 2010, jam 15.54.